Fiksi Pertama : Teror..


Semua karna nomor telefon yang saya dapat dari saku celana kerja mas andreas sebelum saya cuci tadi pagi. Rasa penasaran yang mengusik saya untuk memutar nomor telefon itu semakin menjadi-jadi. Handphone yang telah saya ubah settingannya menjadi “private number” sudah saya bawa kemana-mana dari tadi pagi setelah mas andreas berangkat kerja. Saya tinggal mengumpulkan keberanian. Bukan keberanian untuk menghubungi nomor tersebut. Tapi keberanian untuk menerima kenyataan kalau saja nomor itu adalah nomor seseorang yang ada “hubungan” dengan mas andreas dan otak saya sudah di penuhi dengan pikiran kotor.

Saya mulai memijit nomor tersebut, terdengar nada panggil tapi saya tunggu tidak juga ada jawaban sampai sambungan terputus. Rasa penasaran yang menusuk hingga ke tulang sum-sum dan membut kaki saya mulai tak kuasa menahan berat badan saya. saya memilih untuk duduk di taman depan rumah untuk sekedar menghirup udara pagi yang saat ini benar-benar saya butuhkan untuk mendetox otak saya yang mulai mengirimkan sinyal tidak baik keseluruh organ tubuh saya, terbukti dengan keringat yang mengucur padahal udara pagi in begitu dingin setelah hujan yang mengguyur kota kecil tempat saya tinggal ini semalaman.

Penasaran yang semakin menjadi, semua ini juga disebabkan gelagat yang ga baik dari mas andreas sudah sebulan belakangan ini. saya juga sebenarnya tidak yakin dengan nomor yang ada digenggaman saya ini. tapi setan sudah merasuki tiap-tiap sendi saya. Menyebabkan hal-hal kecil pun menjadi suatu kecurigaan tak menentu di otak saya.

Saya Redial nomor telefon tersebut, tiga kali nada panggil dan HOLAA !! diangkat..assalamualaikum, suara wanita yang manis terdengar dari gagang telefon yang saya pegang…darah saya terpompa begitu cepat, kepala saya berputar. saya mulai diliputi emosi tingkat tinggi..HALO, HALO, di ulanginya beberapakali sebelum akhirnya dia mengakhiri sambungan telefon, sebelum saya bisa mengucapkan sepatah kata pun.

saya masih mematung, memegang gagang telefon..saat kesadaran saya telah mulai kembali ke titik semula. saya ulangi lagi menghubungi nomor itu…saat dia menjawab telefonnya, cepat-cepat saya akhiri sambungan. inilah yang saya lakukan berkali-kali. hingga saya tidak mengerjakan apapun dalam waktu 3 hari ini..sang wanita yang saya teror dalam 3 hari ini pun mungkin telah bosan menjawab telefon dari orang yang ‘kurangkerjaan’ menurutnya. dia hanya mereject tiap kali saya menghubunginya.

sore ini mas andreas pulang, dan saya yang sudah 3 hari ini di telah di buat seperti orang psikopat oleh lembaran kertas kucel yang bertuliskan deretan angka tersebut,saya sudah bertekad akan menanyakan nomor telefon siapa yang ada di kertas tersebut.

Saat mas andreas pulang saya masih mengumpulkan keberanian untuk bertanya. saya yang meluap-luap kala marah mesti mengatur segala rasa yang bergejolak agar pertanyaan saya ga membuat mas anderas marah. belum sempat saya membuka mulut, mas andreas bertanya ‘ma, kamu liat kertas nomor telefon di dalam celana kerja saya berapa hari yang lalu ga ?’ saya yang mulai gusar menyodorkan kertas kucel yang sudah 3 hari ini ga lepas dari genggaman saya. ‘ini maksud kamu ?’.’kamu masih inget dengan Nova ?’ dia bertanya sambil menghirup teh yang baru saja saya letakkan didepannya. ‘ Nova mana ?’ suara saya mulai berubah. ‘Nova teman akrabmu waktu kuliah dulu’ mas andreas berbicara tanpa menatap mata saya membuat saya ga puas dan duduk dihadapannya. “apa hubungannya Nova dengan nomor telefon ini ?” saya mulai ga sabaran. “kemarin saya ketemu Nova saat makan siang di Cafetaria Kantor, dia diutus kantornya untuk meeting dengan kantorku, dan dia menitipkan nomor teleponnya untuk diberikan ke kamu, dan aku baru ingat tadi saat ketemu dia dan dia bilang kok kamu ga menghubungi dia’ mas andreas bicara panjang lebar tapi pikiranku sudah mulai nerawang.

Jadi orang yang ku TEROR 3 hari belakangan ini. yang membuat tidurku tak tenang. membuatku tak nafsu makan. yang telah menyita waktuku selama 3 hari. yang membuatku mengabaikan anak-anakku selama 3 hari ini. Dia SAHABATKU yang TIDAK ada dosa apapun terhadapku..dan aku telah melakukan TEROR yang pasti membuatnya tidak nyaman.

huffff, Setan yang merasukiku selama beberapahari ini harus segera di berantas. Setelah saya setting handphone saya kembali ke normal. saya putar nomor telefon yang sebelumnya telah mebuat saya gundah gulana tersebut dan percakapan antara sahabat yang telah lama tak berjumpa ini pun meluncur deras.

*myfirstfiksiminišŸ˜€

::eLLySTia::

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: