Penanganan serangan stroke dengan DSA


Sudah lama sekali ga update blog..saya yang sok sibuk ini baru inget mau nulis setelah kejadian sakitnya ayah saya bulan kemarin. Saya terketuk untuk berbagi cerita dan berharap bisa membantu keluarga lain yang mengalami hal serupa seperti yang keluarga saya alami.

Hari minggu sore mama saya menelpon. Papa tekanan darahnya tinggi 180 / 130, kaki sebelah kirinya berat alias berkurang kekuatannya sekitar 50%. Sy yg lagi main ke rumah kakak saya saat itu, langsung panik nyetir mobil sambil kaki saya gemetaran. Jarak rumah kk saya ke rumah mama saya sekitar 20 menit perjalanan pake mobil.

Begitu sampai rumah mama..saya ukur ulang tekanan darah papa saat itu. Saat itu tekanan darah papa sudah tambah tinggi 198 /130, panik saya paksa papa utk di bawa ke Rumah Sakit. Papa masih berkeras mau minum obat penurun darah tinggi nya saja. Kami anak2nya teteup keukeuh mau bawa papa ke Rumah Sakit yg terdekat dengan Rumah. Akhirnya papa ngalah dan mau di bawa ke Rumah Sakit. Saat di bawa ke Rumah Sakit kondisi papa masih bs jalan tapi kaki kirinya agak menggeser. Tp kami periksa tangan kiri masih bisa menggenggam.

Saat sampai di Rumah Sakit, papa langsung masuk UGD. Saya agak panik karna sampai 30 menitan papa saya ga juga ada penanganan apa2. Saya bolak balik manggil suster untuk meriksa papa. Akhirnya dokter jaga dateng, tekanan darah papa kembali di ukur, saat itu 180/130. Tetap tinggi dan waspada. Saat itu kondisi tangan kiri dan kaki kiri papa sudah kehilangan kekuatannya sekitar 50%. Dokter nyaranin papa untuk di opname tp papa keukeh mau rawat jalan. Kami anak2nya ngebujuk papa untuk di rawat di Rumah Sakit. Akhirnya papa ngalah, mau juga di infus. Saya dan kk saya mulai ngurus administrasi. Dengan pertimbangan papa harus nyaman saat beristirahat kami pilih kelas VIP. Saat ini mulai kepikiran daftar BPJS. Karna pas daftar2 berkali2 ditanya petugasnya ada bpjs gak. Berkali2 juga saya bilang gak punya hehee. (Nanti saya cerita lg tentang bpjs ya).

Days 1, walau sudah malam saya itung ini hari pertama papa kena serangan stroke. Kekuatan tangan dan kaki masih di level 50% kehilangan kekuatannya (kalau menurut dokter saat say konsul itu level 2-4). Malem itu dokter cm periksa saja. Papa ga dikasih obat penurun tekanan darah dengan alasan saat orang terkena serangan stroke tekanan darah yang tinggi sangat di butuhkan untuk mendobrak penyumbatan. Ada beberapa obat yang papa harus konsumsi saat itu dan ada juga yg di inject melalui infusnya. Malemnya karna papa ga bisa tidur saya minta obat penenang ke suster, dikasih tp dlm dosis yg rendah.. 

Day 2, pagi2 sekali saya udah sampai ke Rumah Sakit untuk gantian jaga dengan adik dan mama saya. Hari ini papa mau menjalani CT Scan, karna di Rumah Sakit Tempat papa di rawat saat itu alat Ct Scannya rusak papa di Rujuk ke Rumah Sakit lain yg punya alat CR Scan. Akhirnya pagi itu papa di bawa dengan Ambulance ke RS tersebut. Saya mendampingi papa selama di perjalanan. Saat di rumah sakit tersebut, saya urus administrasi dll..Alhamdulillah ga pake lama, 5 menit selesai dan papa langsung bs masuk ruangan utk di CT Scan. Yang jadi masalah justru saat selesai CT Scan, dokter yg untuk baca hasilnya ga ada di tempat dan baru ada malam hari. Jd hasilnya baru bs dibaca di malam hari. Sedangkan hasil CT Scan ini sangat di butuhkan segera untuk menindaklanjuti pengobatan apa yang harus dilakukan terhadap papa. Karna penanganan terhadap pasien stroke berbeda-beda (ini menurut dokter syaraf yang merawat papa saat itu, tapi saat di jakarta saya baru tahu kalau mereka ternyata lambat dalam mengambil keputusan sehingga penanganan terhadap papa saya dianggap lambat), saya ambil keputusan untuk baca hasil CT Scan ke dokter lain disini saya dikenakan biaya double (biaya CT Scan yg saya bayar di RS tempat CT Scan sdh include biaya konsultasi tapi karna tidak jd konsultasi, saya harus bayar lg sekitar 250rb utk konsultasi di dokter lain). Setelah dibaca hasil CT Scan dokter bilang ada 4 penyumbatan di otak papa. Kami masih bersyukur karna ini hanya penyumbatan bukan pecah pembuluh darah. Hari kedua di Rumah Sakit kondisi papa makin menurun. Kami mulai khawatir. Saya dan kk ipar saya bolak balik mengejar dokter untuk minta penangangan yg segera untuk papa. 

Day 3, hari ketiga di Rumah Sakit, kondisi papa makin drop. Tangan dan kaki kiri kehilangan kekuatan hampir 100%. Kami mulai panik, dokter visit cm di pagi hari itu pun ga sempat ketemu saya karna saya blm sampai Rumah Sakit saat itu. Nunggu dokter datang lagi ke jam 5 sore karna dia praktek di Rumah sakit tersebut kaya nunggu 5 tahun. Jam 6 sore dokter baru datang, menurut dokter papa saya terkena stroke in evolution dimana penderita akan mengalami penurunan kondisi di 2minggu – 1 bulan terakhir sebelum kembali normal. Saya yg ga ngerti apa2 tentang penyakit ini tdnya iya iya saja, tp kekhawatiran saya mau sampai berapa parah lagi penurunan kondisi papa. Kalau saat ini saja bisa dibilang kondisinya sdh 50%. Saya tanya penanganan untuk mencegah kondisi yang semakin memburuk, dokternya blg ga ada. Saya mulai panik, kasak kusuk dengan kakak dan tante-tante saya. Kami putuskan membawa papa ke jakarta malam itu juga. Karna kondisi yang ga memungkinkan untuk naik pesawat terbang kami putuskan utk naik ambulance. Kami cari info dokter syaraf yang bagus di jakarta ada Prof. dr. Yusuf Misbach, Sp.S(K). Ada 2 Rumah Sakit yang dipegang beliau, RS MMC dan Pusat Otak Nasional. Kami putuskan utk ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Minta di buat rujukan dll. Ternyata ada masalah lagi, prof. Jusuf tidak menerima pasien inap di sana. Jd pilihannya hanya di Rumah Sakit MMC. Akhirnya, kami tetap minta rujukan ke RS PON saja, dengan pertimbangan di Rumah Sakit itu banyak berkumpul dokter-dokter syaraf yang bagus. Sambil nunggu administrasi dan ambulance kami ngobrol-ngobrol, tiba – tiba adik papa bawa klipingan koran yang menceritakan tentang Brigjen CKM dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) teantang penemuannya dalam tekhnology Brain Wash untuk para penderita stroke. Kami jadi galau, tapi karna sudah kadung siap-siap berangkat, jadi papa tetap di berangkatkan dengan Ambulance ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dengan Ambulance malam itu juga.

Obrolan keluarga tidak sampai disana saja, masih tetap keukeuh pgn juga coba pengobatan Brain Wash akhirnya saya telefon kakak saya yang dijakarta utk minta pendapat, akhirnya kami setuju untuk membelokan Ambulance papa ke RSPAD Gatot Subroto tanpa sehelai pun surat pengantar. Kami berasumsi, papa punya adik tentara yang Insha Allah bisa bantu kami masuk ke RSPAD, tanpa surat pengantar.

Day 4, papa sampai di RSPAD jam 6 pagi. Kakak saya sdh disana jam 5.30, ngurus administrasi. Tp karna kami tidak punya surat rujukan dari RS tempat papa dirawat di lampung ke RSPAD. Papa di tolak masuk RS tersebut. Kami sudah menduga sebelumnya, tanpa surat rujukan ga mungkin bisa pindah Rumah Sakit. Akhirnya, jalan terakhir dipakai, minta tolong adik papa untuk urusin. Karna sebelumnya kami ga enak kalau harus merepotkan beliau. Yup, Alhamdulillah papa bisa masuk RSPAD dan dapat kamar VIP Paviliun Darmawan. Ga berhenti bersyukur sama Allah atas segala kemudahannya. Hari itu juga papa dapet tindakan-tindakan yang selama ini kami harapkan dilakukan RS di lampung tempat papa di rawat. Mulai dari mapping otak, MRI dan pemeriksaan-pemeriksaan pendukung lainnya dilakukan hari itu. Lagi-lagi kami harus deg-degan nunggu hasil pemeriksaan papa. syarat DSA pertama, penyumbatan papa tidak boleh di batang otak, karna apabila di batang otak maka DSA baru bisa dilakukan 3 bln kedepan dan Alhamdulillah dr hasil MRI penyumbatan papa bkn dibatang otak. Ohya, saya jelaskan dulu DSA dalam bahasa saya ya. DSA itu seperti menembak penyumbatan yg ada di otak agar aliran darah ke otak bisa kembali normal. Ini ga ngebuat papa langsung bisa jalan lagi. Tujuan DSA ini untuk mengobati penyumbatannya dl. Kl masalah syaraf kaki dan tangan bisa dibantu dengan fisiotherapy. DSA ini yg lagi populer banget, jadi kebayangkan antriannya. Masya Allah, Allah luar biasa baiknya dengan kami, papa dpt diantrian 2 hari kedepan.bener-bener luar biasa pertoongan Allah karna banyak orang yang harus antri sampai 3 blnan untuk bisa DSA. Papa cuma antri 3 hari. Tapi kondisi papa dlm 2 hari ini harus stabil. 

Day 5, hari kedua di RSPAD, dalam rangka persiapan DSA, kondisi kesehatan papa terus dipantau bahkan kekurangan kalium saja bisa membatalkan proses DSA. Papa juga dipersiapkan agar saat proses DSA papa gak stress karna apabila dlm kondisi psikis yang tidak stabil pun DSA bisa dibatalkan. Kondisi jantung papa jg dipantau, penderita jantung tidak diperbolehkan untuk DSA. Hari ini full mempersiapkan kondisi fisik dan psikis papa.

Day 6, pagi ini jam 9 pagi papa sudah harus masuk ruangan DSA tapi ada kendala. Karna semalam papa tidak bisa tidur dan di beri obat penenang, sehingga dokter agak khawatir untuk melanjutkan proses DSA. San kebayang kami harus antri lagi dan entah kapan dapat antrian lagi. Keluarga meyakinkan dokter kalau papa ga bisa tidur bukan karna khawatir menghadapi proses DSA tapi karna memang punya riwayat insomnia akut. Alhamdulillah proses DSA berjalan lancar. Prosesnya cuma 35 menit. Dan kakak saya sempat memvidiokan prosesnya karna memang proses DSA tersebut bisa disaksikan langsung oleh keluarga. 

Saat ini sudah 1 bulan dari serangan stroke tersebut. Dan Alhamdulillah papa sudah mulai bisa berjalan kembali walaupun masih menggunakan tongkat. Hanya fungsi tangannya saja yg belum kembali normal. Paska DSA papa hanya menjalankan proses fisiothrepy dan akupuntur. Semoga segera kembali sehat ya pa. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: